Postingan

Kali Kedua.

Tulisan ini tentang Arraskha Kelana. Si anak kedua. . Arraskha, kalau nanti kamu baca ini. Diam-diamlah. Lalu resapi. Aku tak pernah menyangka akan bertemu denganmu. Tapi aku selalu berdoa, kita adalah takdir yang dihadiahkan Tuhan. Sejenak sebelum kamu hadir, aku dinyatakan terkena virus yang tengah berbahaya bernama Corona. Aku tak peduli, dan tak ambil pusing. Aku hanya tak sabar menunggu bertemu denganmu. Kamu kuat. Aku kuat. Kita berdua selamat. Arraskha. Nama itu dari Baba. Kami ingin kamu tumbuh dengan banyak ilmu. tak sekedar tahu, tapi bisa memaknainya, dan membawanya kemana mana bersama. Kelana, itu nama dariku. Baba menyukainya. Sederhana, tapi mewakili aku dan dia yang suka kemana-kemana.  Kelak semoga langkahmu jauh. Lebih jauh dariku. Lebih panjang darinya. Atau mungkin bisa membawa kita, ke tempat yang lebih indah dari yang perandaian, dalam ilmu yang kamu pegang, dalam doa yang dimakbulkan Tuhan.

Lahir.

Hari ke lima, pagi itu. Dia diam duduk membuat jampi-jampi. Ada yang terkoyak dalam diriku. Berdarah. Pasrah. Dingin diantara setengah nafas yang tersisa. Aku mendengarnya terisak,  Perempuan paruh baya yang tak berhenti berdoa. Aku masih kaku. beku. Hari ke lima, pagi itu. Matahari belum mau naik. Pelan-pelan aku berbisik, "Ibu, maafkan aku.." Tangannya kuat mengerat. Jemariku penuh. Dia mengangguk, mengusap kepalaku. Di matanya hanya sepi. Ada getir yang ditahannya dari pipi. Dari hati. Pujian kepada Tuhan terus berdesir di telinga. Baris air mata tak henti jatuh entah keberapa Seorang dokter terus menjahit jalan lahir dengan seksama Aku kira dia pasti menopang ribuan pahala di dadanya karena hanya terpikir menyelamatkan ribuan nyawa. Kita bertiga telah sah jadi ibu bagi waktu. bagi keadaan yang tak selalu memberi tahu, bagi perempuan yang juga lahir dari rahimku. - Yogyakarta, 10 Februari 2017 Pertemuan pertama dengan Shabria. di ruang dingin tanpa nama.

Kelu.

Kita bukan lagi kawan. Puan menangisi malam ditemani daun-daun bambu yang kelu. Setengah mati setengah hidup. Bukan tak ingin, tapi menyerah serasa lebih mudah. Pilih saja tempatmu yang nyaman. Biarkan aku pulang supaya bisa tidur panjang. Payah payah aku berdiri Dijatuhkan dengan satu kaki Cacat sedari dini, Tak sadar diri. Kelok hatimu buntu. Enggan bangun dari mimpi kosong, yang tak dibuat untuk siapapun. Jemariku geram. Mengetik kutuk yang tak pernah kusampaikan. Perihal apa? Hidupku di kepalamu, yang tak ada tanda apa-apa di sana. Alpa.

Lirih

Di pelupukmu ada rindu Kubiarkan deru menjemputnya Tanpa suara Aku tahu Kita tak perlu membicarakannya lagi Meski kita belum selesai Tapi kubiarkan senja menyurut sendiri Membawa segala tentangmu di akhir sore ini Tak ada pamit yang tak sakit Segala cara kulakukan agar segera bangkit Dan Berpura-pura bahwa sesak dalam dadaku Telah hilang lebih cepat daripada rotasi waktu Maka Kau kulepaskan dengan penuh kerelaan Karena menderamu adalah sebuah kesalahan Yogya, 2018

Lelaki di Lorong Sunyi

Kepada ‘Bapak’ Mataku basah. Seperti gerimis yang mengumpul pada jeruji jendela tua rumah kita. Aku menunggumu terbangun. Di kursi. Setiap pagi. . Tapi kau tak ada. . Aku kira kau ke pasar. Membeli beras atau sabun cuci. Dari ujung lorong kucermati. Kau tak juga kembali. Sampai sore. . Tapi biar kutunggu sebentar lagi. . Aku hanya ingin berterimakasih padamu, karena telah sabar bersamaku. Menua. Lalu menimang cucu. Aku memang dingin dan payah. Tapi darimu aku belajar, untuk tidak menyerah walau bersusah-susah. . Berhari-hari aku tak mendengar lagi denyit keramik dari langkah kakimu yang kecil. Kursi di sebelahku tak lagi ditempati. Melapuk kulitnya. Aus karena jutaan hari ada kenanganmu di sini. . Pendengaranku melemah. Mungkin karena itu candamu tak lagi bisa kudengar. Kadang aku tak tertawa. Hampa.  . Aku sendirian di ruang makan. Mencari waktu agar kita bisa kembali bertemu. Mungkin tak hari ini. Tapi esok pagi aku kan menunggu lagi, di sin...

Perempuan Pukul Tiga

Aku menghapal ratusan mendung yang pernah singgah. Pergi dengan warisan duka. Luka. Luka. Kutambal, yang lain menganga. Lupa. Pada siapa? Aku ingin memaafkan setiap air mata yang jatuh. Tapi rasanya sulit. Aku berpenyakit. Tak lagi bala dan sesal bisa kutampik. Kata. Sabda. Hanya mengalir di telinga. Satu per satu akan pergi pada masanya. Sunyi. Sendiri. Tapi perpisahan tak selamanya menyakiti. - Bekasi 2018

Senja Tanpa Cahaya

Aku ingin bertemu denganmu lagi. Di ruang yang satu per satu sengaja kita kosongi. Di matamu yang dulu. Di pelukmu yang dulu. . Detik-detik penghujung usia kuhabiskan untuk mengalah, meski egomu selalu membuncah. Kelak, mataku tak lagi bisa melihatmu. Tapi mencintaimu adalah kata yang kupatri jauh sebelum aku dibenci. . Berwaktu-waktu hatiku juga sudah banyak patah. Kurekatkan selalu, sebisanya. Di sampingmu adalah keputusan, bukan pilihan. Maka tersenyumlah lagi diantara tatap kita yang kini kerap bersitegang. . Aku hanya ingin dibuatkan segelas kopi. Dari tanganmu. Ditambah sedikit canda dan dendangmu di dapur. Mengingat-ingat masa muda kita yang –mungkin saja- jadi pelipur. . Aku tak ingin membiarkanmu sendirian, tapi merengkuh bahumu saja aku tak punya keberanian. Tua mugkin telah membuat kita lupa, bahwa darah dan daging tak punya wujud yang sempurna. Dan jauh di dalam sana, tak ku duga hatimu telah sekarat penuh luka. . Maka maafkanlah aku yang hina. . L...

Di Wedi Ombo

Gambar
Untuk Biya, anakku, Untuk Tiket.com, sarana menjelajah yang memudahkan setiap orang ( Tiket.com), Dan untuk kalian yang memaknai kehidupan lewat perjalanan. - Satu-satunya kemewahan yang bisa kuwariskan kepadamu, anakku, adalah bersyukur atas segala karya luar biasa Tuhan yang menenangkan hati kita. Hidup mungkin tak melulu tentang mengejar kesuksesan materi, tapi maknailah segala kegagalan sebagai perjalanan yang kan membawamu pada rasa baru bernama bahagia: sederhana. Aku selalu ingin memberitahumu tentang kota ini, Biya. Jogja. Kaki-kaki kecilmu kutuntun mengenal semua. Tentang segala harta yang masih diendapnya. Ombak. Pasir. Deru angin. Laguna. Batu-batu. Satu-satu kamu kan tahu. Nikmati saja sebagai pengganti senyum kakek nenek yang tak bisa kita temui setiap hari. Belajarlah dari sini. Dari alam yang memberikan banyak arti. Berlakulah dengan pekerti. Di situ kamu kan temukan surga yang tersembunyi. Seperti tempat ini, kukenalkan kamu dengannya, Wedi...

Sebuah Doa

Gambar
Kepadamu: Anak Perempuan Kami Yang Penyabar Aku terus menerka-nerka seperti apa kelak kau punya rupa Seperti sebuah riak, kau hanya berbahasa lewat gerak. Kutunggu itu. Setiap hari, Setiap pejam dan kejap yang berusaha pergi Yang membuat malam-malamku tak lagi sepi.

Tiga Huruf Bermakna Seribu: #IBU

Sebesar dan setua apapun anak, tetap aja akan menjadi seorang 'anak' di mata ibunya: yang terkesan masih butuh dibuatkan susu pagi, beberapa helai pakaian dicuci, beberapa cemilan dibeli, beberapa pekerjaan rumah dikerjakan, beberapa kebutuhan dicukupkan. Padahal semua itu telah sanggup sendiri kulakukan. - Bertahun-tahun kuhapal dan kujadikan pelajaran segala bentuk kekurangannya sebagai manusia biasa, tapi nyatanya aku tak pernah berhasil menyelami sebegitu dalam relung cintanya, yang -mungkin- pernah kurusak dengan rasa kecewa di hatinya, atau tak sadar kusakiti dengan lidah yang membelati membasahi dua pipinya. - Lalu, setelah 9 hari di perantauan menemani, ia pulang dengan maksud kembali lagi. Menyisipkan sedikit hartanya di bilah tanganku setelah memeluknya yang akan pamit pergi. Ibuku, bukan tipe orang yang senang mengumbar rasa sayang, tapi seberat apapun ia akan selalu berusaha membahagiakan.  - Sembilan bulan aku memapah jiwa baru di dalam badan, baru kin...

Tentang Kegelisahan

Tentu ini bukan mimpi yang biasa saja. Atau mungkin bisa biasa saja, tapi ini satu satunya mimpi –seingatku- yang mencampuradukkan pikiran gelisah dan rasa senang yang tak pernah kurasakan sebelumnya... Siang itu aku ada di suatu kota, yang kutau itu adalah pelataran menara tertinggi di kota Mekkah. Aku berjalan jalan di kota. Menemukan temanku sedang bercanda, dan orang-orang lain yang tak ku kenal. Tapi aku dalam keadaan yang amat sangat buruk dan kotor. Dadaku luka, perih, ketika aku berkaca ada sejumlah baret yang sangat tak enak dipandang mata. Aku memakai baju dengan potongan dada yang rendah. Tanpa jilbab sebagaimana hari-hari biasa. Aku berkaca, ada luka merah dan hitam yang mengering membuatku jijik dengan diriku sendiri. Malu, aku pergi meninggalkan tempat itu ke taman kota. Tiba-tiba aku mendengar suara tembakan dari arah kanan, seseorang membawa senapan laras panjang dengan pakaian tuxedo. Aku terbengong dengan rasa takut. Orang-orang berlarian kocar kacir. Ada t...

Semua Berubah Setelah Menikah

Awalnya, Aku berpikir bahwa aku akan menunda punya anak, menyelesaikan kuliah, bekerja sampai puas, lalu mengurus rumah. Kemudian, Aku pernah berencana, aku akan menyisihkan sedikit uang untuk jalan-jalan berdua, berbelanja online sesuka hati. Pun aku bertekad untuk mengurus rumah tangga sendiri, aku akan jadi sekuat ibu. Iya, begitu. Tapi, Semua berubah setelah menikah.. Bahwa mengandung, berarti aku memberikan sedikit kesempatan keturunanku berjumpa dengan siapa cikal bakalnya. Bahwa sedikitnya aku mengganti kesedihan mertuaku yang 'kehilangan' anak lelakinya, dengan manusia kecil baru yang akan membesarkan lagi cinta mereka. Ya, semua berubah setelah menikah. Bahwa berjalan-jalan bersama keluarga ditambah sesosok belahan jiwa adalah hal yang lebih membahagiakan ketimbang jalan berdua. Bahwa aku tak juga kehilangan waktu 'berdua' ketika berada di tengah mereka. Bahwa tawaku bisa lebih pecah, sukaku nyatanya lebih membuncah.. Percayalah, se...

Perawan

Untuk Bundo Setelah ini tak akan ada lagi drama. Semua kupastikan sirna. Ingatkan ini nanti, kelak aku akan menagihnya dalam hati. Aku mungkin akan meminta maaf, perihal lupa, perihal salah dimana pijakanku lama terbenam. Sendiri aku besar, setiap hitam pernah kukenakan. Tapi siapa yang ingin mati dengan rasa khilaf yang tak bisa diobati? Aku rasa tak ada. Kecuali pesakitan yang tak lagi punya harapan. Aku ingin mereka tau aku berbeda. Sedikit egois, banyak candanya. Sejuta teman, banyak cacatnya. Tapi pasti ada dia di sana yang akan menjadi lentera. Tentang sebuah penerimaan yang tak bisa biasa saja. Selain Ibu yang memaklumi segala buruk ku, yang menyediakan ruang untukku berketurunan.  Aku percaya Tuhan Maha Memaafkan, soal keyakinanku sebagai perawan, soal banyak bedak dan gincu yang kusimpan. Begitupun soal kamu yang sedari tadi mendengarkan.  Aku tau kamu akan menjaga, karena itu aku percaya. 

Memakna Kontemporer

"..di Indonesia, kita mudah menyerah sebab tak betah bersusah payah untuk memahami sesuatu yang baru.."  - Sal Murgiyanto Kesulitan penerimaan masyarakat terhadap seni kontemporer bersumber pada ketidakinginterbukaan mereka terhadap pintu wawasan yang baru. Perihal kontemporer dianggap lebih mudah diterima oleh mereka yang cukup berpendidikan dan mau 'menelan' apa saja yang disajikan juga berani mengkritik. Masyarakat perkotaan misalnya, Sal mencontohkan. Saya menilik ke dalam diri sendiri, sebagai produser dan pengelola, Sal menasehati, bahwa kita harus pandai melihat pasar, dan memilah penikmat seni yang seperti apa yang akan mampu mencerna makna kontemporer yang dihadirkan dan bagaimana diinterpretasikan tanpa salah sasaran. Lebih jauh lagi, kita harus mahir menempatkan mana seni yang -hanya- ingin dinikmati, dan mana seni yang perlu disajikan ke hadapan masyarakat plural saat ini. Perlu disadari, bahwa target utama dari seni kontemporer itu adalah adanya ...

Kelangan.

Untuk Pak Win. Seorang suami yang ditinggal mati sang istri.. Aku ingin pulang ke dalam matamu yang sendu, tapi tak ada jalan.. Dingin di sini. Hujan terus mengguyur dan menjadi penjahat paling sakti yang membawa ketabahanmu mampir dalam ilusiku setiap hari. Sekejap hujan juga menjadi pendengar paling setia yang tak menyanggahku lewat kata, tapi menggemuruh seperti tanda.. Terkadang aku lupa cinta itu bagaimana.. Mungkin seperti keyakinan anak kita yang masih bertanya kenapa kamu tak sembuh juga, tapi malah tiada.. Mungkin juga seperti senyum yang kamu sunggingkan meski ternyata ada sakit yang tak tertahan.. Atau mungkin juga seperti keheningan, yang menemanimu pergi, jauh mendahului.. Yogya 2016. -- Pak Win adalah Bapak yang akan menyewakan rumahnya untuk kutempati kelak. Istrinya meninggal dunia karena kanker serviks 8 tahun lalu, saat anak pertama mereka masih duduk di kelas 3 SD, dan anak kedua mereka menginjak TK. Beliau menceritakan detil demi det...

Elegi Tahun Baru #2

: Kepada ibu yang selalu ku rindu "Berada di pelukanmu,  mengajarkanku apa artinya kenyamanan,  kesempurnaan cinta.." Lagu itu mengalun bertenaga di radioku. Dadaku terasa berdegup lebih dalam. Tetiba raut wajahmu sering hadir di malam-malam ku yang sendirian. Belakangan ini aku menjadi semakin sensitif. Kata kakakku memang sewajarnya begitu.. Sesekali dia berbicara padaku dengan merengek, memintaku untuk tidak pergi jauh. Seperti anak kecil yang meminta selimutnya tidak dicuci, karena ada bau yang akan selalu ia tunggu agar bisa tidur nyenyak tanpa sesak. Terkadang seusai menutup telepon aku menangis. Sejadi-jadinya.  Sebisa mungkin aku ingin selalu di sampingmu..  Mendengarkan setiap cerita, keluhan dan ringkasan perjalanan kecil yang setiap hari engkau lakukan, seperti biasa.. Atau mengantar kemana pun engkau mau, selelah apapun, seperti biasa.. atau membuat lelucon-lelucon hanya sekedar membuat engkau tertawa, seperti biasa.. Aku sangat ingin. ...

Di Atas 24 Karat.

Seperti burung yang bertolak dari sarangnya. Ringan. Tanpa mengunci pintu dan pagar. Seperti itu aku ingin beranjak dari pangkuanmu.. Berdamailah dari ketakutan, Karena aku tak pernah ragu dengan kebesaran Tuhanku, Maka janganlah juga kamu begitu, Tapi doakanlah kami untuk tidak bergegas dengan rasa khawatir. Agar ibadah besar ini tak kami jalani dengan upaya yang cuma segelintir. Kendati aku pun pergi tak membawa kunci, Maka tak ada pusaka yang berguna bila kita tidak bahagia.. Kita hanya perlu pulang dan melepaskan masa yang telah jadi kenang, Dalam dekap. Kelak rindu pasti penuh seperti pertama kali kita bertemu, 25 tahun yang lalu. Sedang ada sebongkah doa tak kan pernah terputus, berharap kita bisa bertatap lagi, lebih lama dari sebelumnya.. Maka, tenanglah, namamu akan tetap hidup di dalam sini, Meski aku akan diambil orang, empat bulan lagi..

Teman Dari Nol

Tidak adil rasanya, ketika aku telah berdamai dan merasa lebih baik dari aku yang dulu, lantas aku berhak mencari yang sepadan denganku. Sedang dia telah hadir di sini, jauh sebelum aku menjadi seperti sekarang ini. Menuntun dan menjadi pijakan, bahwa aku punya kesempatan melihat ke tempat yang lebih tinggi lagi. Tidak adil rasanya, ketika dia mulai berproses menjadi sesuatu yang lebih baik darinya yang dulu, kemudian aku meninggalkannya tanpa menjadi penggenggam dan pijakan untuknya. Tanpa melihat apa yang akan dihasilkannya kelak. Karena aku tak ingin mengingkari apa yang sudah kujanjikan pada hati. Kita akan selalu berubah. Tapi biarlah waktu tetap menjadi pedang sebagaimana ia diciptakan. Biar saja apa yang tertinggal menjadi pelajaran sebagaimana kita merumuskan hari depan. Biar saja sekelumit cela yang kita bawa tetap menjadi rahasia yang tak boleh diselami siapapun juga. Bahwa bosan memang perlu ada, untuk kita saling menyempurnakan, bukan saling meninggalkan. ...

Tentang Kebijaksanaan

Sejak hari itu aku jadi tebiasa menertawai diri sendiri. Hari yang tak bisa kupastikan sedang kapan terjadi. Karena menurut profesor filsafat yang mengajar di kelas, 'sekarang' bukanlah waktu yang absolut. Pun kita yang ada saat ini adalah sekumpulan sekarang-sekarang di masa itu.  Tersasar pada gang yang bentuknya seperti fatamorgana: Tak berujung. Terbentur pada dinding-dinding kamar mandi yang terlalu kecil. Tidak, aku bukan sedang ingin mengeluh dan mengumpat. Sekarang yang ini bukanlah waktu yang baik untuk menyerah. Ah, aku bahkan lupa. Seharusnya mulutku menahan gerak ketika ingin mengucap 'waktu', karena beliau juga selalu menyangsikan makna soal waktu.. Bapakku bilang sebelum pergi, "Jadilah bijaksana.." Terdengar sederhana, tapi nyatanya banyak falsafahnya. Itu juga yang Bapak Tua Pintar nan Jenaka itu tanyakan di kelas Filsafat. "Bagaimana untuk menjadi bijaksana..?" Manusia yang nyata adalah mereka yang selalu merefleksikan kehi...

Tentang Umrah.

Pertama kalinya naik pesawat. Bersyukur pilotnya muslim yang taat. Kami berdoa menempuh safar bersama agar selamat. Pertama kalinya ke luar negeri: Saudi. Sembilan jam berada belasan ribu kaki di atas bumi. Pertama kalinya terpesona pada pandangan pertama dengan dua bangunan termegah di dunia: Nabawi dan Ka’bah. Maha Suci Allah dengan segala KeindahanNya. Pertama kalinya sholat dengan shof yang rapat dan rapi. Betapa tenggang rasa begitu tegak di atas rentetan sajadah kami. Pertama kalinya merasakan langsung bahwa Islam adalah agama yang teramat besar di dunia ini. Dipertemukan dengan para muslimah dari seluruh penjuru negeri: Malaysia, Mongolia, India, Inggris, Cina, Tunisia, Nigeria, Pakistan, Turki, Perancis, negara-negara Jazirah Arab, dan negara lain yang ketika kudengar, tak kupahami bahasanya, tapi kita mengaminkan satu doa di waktu yang sama. Allah Maha Besar dengan Segala KeperkasaanNya. Pertama kalinya merasakan sholat Jumat, di dua tempat tersuci. Pertama kalinya meruntuh...