Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cucur Hangat (Curhat)

Bertemu Lagi.

Kita adalah langkah langkah yang terberai. Kita ingat bahwa ada banyak cerita terhutang pada perjumpaan yang enggan kita menangkan. Seperti kamu yang pernah menangis di sudut sangkaan terdalam tentang kota kecil yang menceraikanmu pada adat yang begitu melekat. Atau kamu yang tiba tiba berhasil menjajakan asa pada orang orang di negeri sebrang. Atau juga kamu, yang masih sering berbicara pada awan sambil meluruskan rambutmu yang mengeriting memanjang. Barang tentu ada aku di sini, yang berharap kamu, dan kamu, atau juga kamu datang lagi, melunasi setiap inchi tatapan kita yang sempat terhalang waktu --untuk meniti mimpi dari masa lalu. Ditemani gelas gelas coklat, meja meja kayu, dan celoteh tentang apa saja yang kita bawa dari dalam otak kecil untuk menangkap lagi wajah wajah silam yang telah lama tak terekam. Bahwa kalian selamanya akan menjadi sebuah bagian; dari kamu, dariku, kita. -PIM, di sebuah kedai kopi menuju larut malam.

Tentang Lupa.

Kecuali rasa sakit, bisa begitu saja pudar. Bahkan kenangan bisa terlampau cepat basi melebihi tanggal kadaluarsa roti. Kita hanya butuh menangis sebentar, lalu tidur satu malam untuk bangun dan mengumpulkan kekuatan maaf untuk dipersembahkan kepada masalalu yang merusak bahagia yang seharusnya ada. Bukankah kita sudah melakukan yang terbaik yang kita bisa? Untukku kesalahanku, dan untukmu pembenaranmu. Masing-masing dari kita tak ada yang akan menang. Karena ini hanyalah perjalanan. Sejauh apapun itu, pada akhirnya kita harus mengembalikan cinta yang pernah kita pinjam.  Seperti lagu-lagu cinta bodoh yang tak pernah dianggap. Aku terus saja bernyanyi padahal kupingmu sudah sangat kesakitan. Bahwa aku telah menghabiskan banyak malam untuk menghafal bait bait yang mewakili seluruh perasaan –kepadamu- yang tak bisa dengan gamang aku ungkapkan. ..dan sekarang harus aku lupakan.

Tentang tentang.

Ini pertama kalinya aku merasa gamang. Sendiri nyatanya tak juga memberi aku jaminan untuk duduk tenang. Entah untuk siapa lagi rasa ini kukemas. Sedang dua per tiga diantara malam kadang aku merasa cemas. Apa yang lebih sesat dari rindu yang salah alamat? Sedang kita tak mengerti untuk siapa kita berdiri. Kita terlalu rela untuk dijadikan ganda. Untuk dipilih pada baris ketiga. Ini bukan lagi tentang malam atau kita yang yang terpejam. Bukan tentang khayal yang menjelma bual. Ini mungkin tentang aku, tentang rindu, tentang tentang yang bertententang.

Rindu Kencan

Mengapa kita kencan? Mungkin karena ada kata yang tak habis setiap hari tentang malam yg menutup kita dengan tidur panjang. Mungkin karena lampion2 merah cabai yang menghipnotis kita untuk menuturkan apa saja di pinggir jalan itu. Mungkin juga karena kamu atau aku adalah tempat dari masing-masing kita menitipkan kenangan di akhir Minggu.  Dan kita terlalu betah disini, untuk menunggu sedikit malam menjadi semakin malam. Dibalik kaca bernuansa tionghoa, diantara keroncong dan benderang oranye mengguyur bayangbayang yg mengawang. Kita yg mengeja takdir, lalu kamu percaya dan mendengarkan. Kita yg menyeruput dua sampai 3 kopi susu bergantian. Dan tanpa janji kita bisa melekat lagi. Dibawah suara suara penuh mimpi, dimasa masa yg kita aliri. Semerbak yakin dan khawatir teraduk diantara ampas kopi yg tersaring. Lalu tentang orang orang yg menggantungkan harapan pada tiap tiap hati kita; perempuan-perempuan penunggu malam. Mengapa kita –kembali- kencan? Mungkin karena semacam rin...

Peri-peri Kecil.

Gambar
Sedikit gemetar sebelum memulai kelas kecil itu. Mimik-mimik lugu, teriakan yang tak tentu, panggilan sayang berbunyi "Miss" yang menghangatkan telingaku. Lalu kita menyablon stensil, dan aku merasa amat senang dengan antusias kalian. Kemudian aku kagum dengan ke-hati-hatian kalian melakukan apa yang aku instruksikan. Bahkan sebelum hasil sablon itu kering kalian memaksa diri mengenakan kaos yang dijemur belum matang. Terimakasih karena telah menerimaku di tengah kalian dengan -sangat- baik, Atar, Najwa, Farhan, Yusuf, Mia, Aimee, Varel, Cyril, Zidan, Rizky, Intan, Hakim, Rafa, Sazkia, dan peri-peri kecil lain yg tak aku sebut satu per satu. Juga pada kedua "Miss" lain penjaga ruang bahagia itu. I will miss you, Mus'ab Class :) :'*

Pesan Senja

Gambar
Aku merasa senang dengan matahari sore ini. Sejauh apapun dia, tetap hangat menembus retina, kulit pipi, bibir, hati, dan kamu. Tak menyilaukan tak mengikat awan. Seperti lagu lagu sendu yang diputar temanku. Mengalun, menggoda dengan lirik lirik dayu. Aku tau, kamu juga merasakan ini. Senyum abu abu yang cuma terasa di hati. Cuma kita yang tau. Resapilah ini, sebagai takdir kita yang baru..

Lagu Hujan.

Gambar
"Aku berandai tak jatuh kepadamu. Sangat susah, karena cinta serupa titah untuk jadi basah.."   -Hujan (18:30) "Aku di sini bersama teman bernama angin. Supaya rumput-rumput tak diam, dan mengobrol tentang sebuah rasa bernama dingin.." -Hujan (19:46)  "Aku ingin ingkar, supaya yang berjalan sendirian tak tersirap sendu. Supaya nuansa ini tak resmi syahdu.." -Hujan (20:30) "Aku kira kamu akan benci, sesaat aku mengalir di atas wajah-wajah yang menyiratkan resah.." -Hujan (21:00) "Aku merasa gagal. Nyatanya kamu tersenyum di sepanjang jalan yang basah. Jalan-jalan yang pasrah.." -Hujan (21:51) "Aku menemukan bahagia yang (sangat) sederhana. Dalam tawa yang pecah, ketika celaka yang kecil batal hadir.." -Hujan (22:22) "Aku yang menutup malam, mendekap bayangan yang tak disangka bersenyawa.. Sejatinya mimpi telah berhasil mengupas angan dan kenangan yang tak bertujuan.." -Hujan (23:56) Sepanjang hari yang hujan. Sel...

@ReadingRoomJkt

Gambar
Sunday yg bener-bener holiday!!  Seneng banget bisa kumpul dan seneng-seneng bareng @runiekriwel @zakyzappata dan @ameenourma. Tadi pagi dimasakin runi fetucini di rumah zaky. Masakan asli kebumen sonoan dikit yg al dente bgt!! asli, tangan runi gifted bgt buat urusan masak memasak. hahaha lebay dikit selow lah yaaa.. Siangnya abis bobo cantik kita cuss ke Galnas. Liat pameran Raden Saleh yang keren2, dan ga pernah kita liat sebelomnya. Sejauh yang kita tau cuma sekadar beliau pelopor lahirnya aliran modern dengan karya-karya yang berciri romantism. Tapi hari ini, gue tau beliau sangat kaya dan kreatif. Dan gue baru tau kalo beliau perancang busana pertama di Indonesia.. KEREN MAKSIMAL. Ini oleh-oleh dari galnas :D And Then, finnaly, Reading Room Kemang.  Dari tujuan pertama, gue udah excited bgt buat datengin ini tempat walau bermodal nekat dan berserah diri pada Tuhan dan satpam-satpam pinggir jalan, kita ga berhenti mencari. Well, kita nyasar , lebih tepatnya...

#UdahMauLulus

Baru.  Kali.  Ini.  Gue.  (Sangat).  Rindu.  Jurusan . . .

Yang Terasa Entah..

Suatu malam kita pernah mendongengkan rindu. Seperti detik yang mengayun dinding kamarku. Tak terlihat, tapi kita tersipu sesaat. Padahal kita bukanlah apa atau siapa. Bahkan rindu ini tak berdasar adanya. Kemudian kita saling tanya tentang cemburu. Yang tak mengobati setiap rasa ingin tau. Kita yang tak bernama. Yang sesungguhnya tak pelak menjadi rasa. Seperti entah yang diutarakan lewat sebuah pesan sembarangan. Bahwa hati kita belum benar-benar sepenuhnya bergandengan.

Yes. Im a Teacher :)

Tiba-tiba pengen nge-share lagi tentang cita-cita gue menjadi guru. how i love to teach!! bahasa inggrisnya bener gak yah.. bodo deh. hehe.. Sometime, ada aja yg suka nanya, "Ratih kuliah dimana..? jurusan apa..?". Dengan tulus dan ikhlas gue jawab "di U eN Jeh.. ngambil seni rupa..". Dan dengan sangat hapal dilaog selanjutnya pasti seperti ini, "Wah jadi guru dong yah, ngegambar-gambar doang mah gampang ya, Ratih kan jago gambar.." . Sampe di sini, sejujurnya gue males nerusin dialog kaya gini. Apalagi beberapa orang ada aja yang kadang menambahkan percakapan kurang penting seperti, "Kenapa ga ngambil ekonomi, atau apa gitu, Ratih kan pinter.." ,,  *buru buru nutup telpon* - - FYI, seni itu bukan hal yang gampang. dan kepinteran itu tidak hanya dibutuhkan untuk hal-hal berbau ekonomi de el el itu aja. Apapun itu, pasti butuh niat dan kepinteran. Pun pilihan yg gue jatuhkan saat ini juga atas dasar niat dan kepinteran. Gila aja kalo jadi guru...

Ahh!!

Ada yang tengah menemukanmu berdiri mencari cari. Menari mengganggu perasaan yang belum sempat disemai.  Mengapa kita sering merendah. Mengapa kita cepat sekali kalah. Lalu kita lelah. Padahal ini sangat salah.  Dan Ahh!! Aku tak bisa mengaku.  Kamu itu penjual rindu. Aku sang pembeli tabu. Kita kaku.  Tapi dialog ini masih terjaga abu-abu. -- Kamu terasa seperti bedebah.  Seperti malam yang sudah-sudah.  Terserahlah!

Aku dengan segenap kebencianku.

Aku benci saat ini. Saat malam-malam ku (kini) lebih banyak berpapasan dengan spasi. Aku tak menyangka aku bisa merasa sebenci ini. Kata-kata klasik justru malah banyak berteduh di bawah rasa sepi.  Waktu.  Rindu.  Aroma yang bertahun-tahun tersimpan di saku kemejamu. Di lipatan jilbabku. Di sekat lelah perjalanan malam kita. Diantara gedung-gedung dan bulan yang tak lagi bertegur sapa. Aku sedang sangat ingin bersandar dibahumu. Untuk sekedar tahu kamu tak kan pergi jauh. Dan aku benci itu.

No One Recipient.

Satu hari nanti kita akan lenyap. Mungkin dimakan senyap, atau telah lama merasa pengap. Kita ini bukan aku. Bukan kamu. Kita ini sebuah kata 'ada' yang tak berimbuh. Seperti rasa yang lekat, yang jauh tapi dekat.. Kita ini sakit yang diperlambat, seperti airmata yang -sementara- disumbat. Kita ini serupa semiotika. Sejenis tanda yang masih diraba-raba. Kita ini bukan aku. Bukan kamu. Tapi mungkin seperti warna yang tak direka, diantara ungu atau magenta...

Maya.

Mungkin ini juga sebuah ironi. Saat kita berkhayal bahwa kita membuat janji untuk bertamu pada masing-masing hati. Membicarakan malam sampai nyaris habis. Lalu bergelas-gelas teh yang kusiapkan kamu sruput tanpa bekas. Berharap gelap tak kan beranjak lekas-lekas.. Tapi kuingatkan ini hanyalah ironi.  Karena pada kenyataannya di malam itu aku akan pergi sendiri. dan kamu juga akan pergi -entah dengan siapa-. Tak ada yang bertamu, tak ada yang bertemu. Dan kita tak pernah menjadi apa yang kita khayalkan tadi. Lalu kita tak kan saling mengabarkan sampai akhirnya kita saling merindukan (lagi). Baru kali ini kutemukan sedih yang terkecap manis..

Late.

Ketahuilah, aku sedang berusaha mencari sumbu untuk menghangatkan kedinginan kita. ketahuilah, istirahat ini tak membuat aku diam saja. tapi ternyata hari ini kamu menghentikan langkahku, dengan melupakan semuanya..  Padahal ada sekotak rindu yg kelak ingin kuperlihatkan kepadamu kalau kita bertemu. tapi aku lupa, sehebat apapun itu, kamu -sudah- sangat tau bagaimana membuat aku jatuh. dan hari ini, mungkin akan kubuang jauh niat itu..

Kidung.

Gambar
Ternyata, begini rasanya berpura-pura kuat. seperti menelan batu-batu bulat, lalu di ujung paru dia tersumbat. sedang malam mulai menjadi musuh yang paling nyata terlihat. Semakin kita terbahak, semakin kita tersedak. Dan kamu, si lelaki hebat yang -dengan lapang- merubah predikat. Adakah kamu juga rasakan rindu ini justru semakin dahsyat..? . Yang mengajarkan aku menertawakan air mata kita. Yang membuat ini terasa sederhana. Yang membuat aku berhenti meratap di malam malam durja.. Adakah kamu sehat di sana..? Nanti, kalau kita jatuh cinta lagi, dan kamu telah bersama aku yang lain lagi, ketahuilah aku -sangat- meminta maaf sejak hari ini. : Untuk kamu, yang pasti ada dalam persembahan kelulusanku. Terimakasih banyak ..

Pudar.

Pada akhirnya waktu yang setia menemani aku menjadi sepi. Menjadi seperti apa yang aku bayangkan di malam lunglai. Menjadi abu yang tak terbang. Tapi inilah waktu yang lapang. Yang menemukan aku pada merah muda, jingga, lembayung, atau magenta. Lalu di sini ada selamat tidur yang hilang, -untuk rindu yang terus mengambang-.

Refleksi.

Kalau aku berusaha menjadi lebih baik, bisakah aku berharap untuk mendapatkan yang lebih baik juga, Tuhan..? Semoga saja. Amin.

Cerita (sangat) Pendek

Sedih ya, kalo diri kita dibuat ga berarti sama sahabat sendiri. bahasa kerennya tuh meaningless . Apalagi sahabat kita itu orang yang kita sayang. apalagi perbuatan me- meaningless -kan kita itu dilakukan dengan terang-terangan. Sebut saja si sahabat ini Bunga Bangkai. Kenapa nama samarannya begitu?? Karena bunga itu tumbuhan. dan bangkai itu bau. Jadi, hubungannya dengan si sahabat apa? ya, gak tau. gak ada hubungannya sih.. Jadi inti dari cerita ini sebenernya ya.. gak ada intinya. selesai.