Postingan

Sajak buat Chairil

: Terimakasih telah meciptakan 'Karawang-Bekasi' Sebait sebait aku mengeja sendu ini. Ketika itu kamu bicara padaku dalam hening di malam sepi Ya, dadaku kerap terasa hampa Dan beginiah aku yang menemuimu: apa adanya. Sebuah payah, sebuah gundah. Benar saja katamu, "Kami mati muda" Jiwa yang melayang tapi tidak untuk apa-apa Tak ada yang meneruskan. Tak ada yang menjaga. Aku pernah meneriakimu malam itu. Kepada langit, kepada dingin, kepada takut, kepada nasib yang -sebenarnya- tengah mengaduh-aduh. Dan benar lagi katamu, "Kami sekarang mayat" Tak ada yang mengenang Tak ada yang memberi arti. Entah sebab apa akupun merasakan pedih dalam puisimu itu. Bekasi, 2014

Tempat Tertinggi

Yang kita butuhkan hanyalah ruang untuk terpejam. Sebuah kamar, yang menghadap awan. Kita berdiri di sana. Berlatih untuk sebuah kompetisi basa basi. Ditemani jemuran, sebuah colokan, sedikit camilan, dan sekelumit candaan (yang tak ada habisnya). Menertawai apa saja yang terlintas. Mengganggu konsentrasi yang tidak tuntas. Karena -mungkin- kita sudah terlalu bosan mengeluh, Terlalu rela membiarkan sesal berlari jauh. Terlalu kenyang dengan rasa syukur yang jadi penawar paling ampuh. Lalu cahaya matahari pagi itu mampir Membuat bayanganmu serupa bagian dari karya yang tak kita duga. Bahwa hangat di tempat sesederhana ini yang membuat kita tidur nyenyak. Jauh, dari tempat kita biasa melambungkan mimpi di udara yang kita hirup sehari hari. Kita sepakat akan merindukan tempat ini. #RoofTop sebuah hotel. Semarang, 2014

Perempuan Langit

: untuk sahabat kecil Aku menunggumu pagi itu dalam rebah Pada dasar yang tak menjauhkan kita dari rasa tabah. Aku, kamu, meja, dan kursi yang menemani tanpa menghakimi Di antara kaki-kaki kayu yang menyelipkan haru Kita tak percaya telah melesati puluhan tahun cahaya, bersama. Dan sayapmu telah lebih dahulu sampai Pada satu hari saat semua kegelisahan tergadai. Sedang aku masih saja terjejak merana tak berdaya Melafazkan lusinan doa agar bisa menyusulmu ke sana Berharap udara membawa getaran kata-kata yang kita ucap Ke tempat yang lebih tinggi dari langit-langit putih yang kita tatap Bahu dan telinga kita telah sejajar. Memasrahkan lantai yang dingin mencerap sepasang airmata yang tak terdengar. Lalu kita sepakat bahwa hidup ini nyatanya tak jauh beda dengan aurora: Berputar indah tapi terpecah. Menyimpan warna yang tak pernah kita duga, pun lengkap dengan pilu yang luar biasa.. Tangerang, 2014.

Di Antara Gerbang dan Kerikil Tajam

Kepada Para Penjaga Palang Kereta: Sebab apa engkau bertahan pada bising yang memekakkan genderang telinga? Saat usia-usia dipasrahkan jatuh pada besi tua yang semakin tak terlihat ujung takdirnya. Sedang peluh dan keluh engkau, Hanya boleh didengar oleh polusi dan egoisme pengendara. Terimakasih karena telah menjaga pejammu dari malam yang begitu menggoda. Dari angin yang tak permisi merasuk, mematikan pembuluh nadi dan aorta. Terimakasih karena telah bersedia menjadi penolong ribuan -atau bahkan jutaan- nyawa. Karena kuat engkau, jembatan bagi mereka dan keluarga untuk kembali bertatap mata. Karena mungkin engkaupun sudah mulai lupa sesiapa saja anak-cucumu yang menunggu engkau di rumah. (Stasiun Pasar Senen. 21:30)

Sepotong Sore dan Dua Gelas Air Laut

Wanita itu seperti laut, katamu. Di hatinya ada dasar di bawah dasar. Bisa saja kita tersenyum, aku tertawa di depanmu, tapi ada palung yang tak terbaca di dalam sana. Ada waktu yang tidak kita ijinkan mengintip barang sedikit, bagaimana kita tenggelam sendiri di dalam air yang kita penuhi. Melepas masa lalu bagai proses berenang ke permukaan, katamu. Terkadang ingin cepat menyerah karena tangan kita lelah mendayuh. Tapi kita butuh udara untuk paru-paru yang baru. Gelasku tinggal setengah, mendengarmu memberi analogi tentang kita berdua. Kita bisa berpura-pura nyaman, atau pergi menjauh, katamu. Asal jangan memaksa sesiapa untuk menunggu, menyelam bersama. Dia pasti kalah. Aku memotong sore, membaginya di piringmu. Pasti rasanya tak enak tersedak air laut. Kering, tapi kita terus ingin meneguk sendu. Terpaksa. Karena kita tak tahu bagaimana lagi menikmati bahagia yang seharusnya. Tapi kamu tak menghabiskan potongan terakhir, tawar katamu. Setawar cinta yang ber...

Siang itu, Di Bawah Langit Bulan Juli

Berhari-hari aku menantikan pulang dalam keadaan yang wajar. Punggung dan bahu seolah bisu tak ingin mengaku nyawanya tinggal satu. Pergi, dengan lembar-lembar kesabaran yang tak boleh lecak barang sedikit. Kembali, dengan nafas yang sudah senja dan tenaga yang dihemat-hemat agar tak sakit. Aku yakin hari-hari seperti ini akan segera beranjak, tak betah dengan kamarku yang pengap, yang telah banyak meredam parau dadaku menghitam. Dimana kaki dan tangan selalu menunggu rebah. Tapi selalu ada saja kekurangan yang menjadi salah. Tidak, ini bukanlah sebuah catatan keluh kesah. Ini adalah sekelumit saksi bahwa aku telah -pernah- berdiri pada hari itu -seperti kalian-. Berjuang menolak jenuh. Menolak dikecilkan. Menunda banyak keinginan demi sebuah hari, dimana ada ayah ibuku turut berdiri dengan sedikit genang dan kenang di matanya. Dimana doa doa yang diujarkan telah lunas terbayar lewat sebuah kelulusan.. -- Lalu aku -akhirnya- benar-benar pulang dalam keadaan yang waja...

Media dan Paradoks Pemilu

Tulisan serius sekali-sekali. Untuk Para Politisi Karbitan.   Indonesia sedang menunggu waktu untuk melanjutkan sejarah pemerintahannya: sebuah peristiwa pergantian pemimpin negara. Dua nama telah dicalonkan, dua nama telah dikantongi untuk dipilih satu bulan lagi. Kampanye-kampanye pun dimulai dan menyebar secara drastis dan dramatis lewat media-media komunikasi yang ada. Koran, Majalah, Televisi, Radio, dan Internet. Iyaa INTERNET. Sejak Indonesia melek Internet, semuanya diakses dengan internet: tulang punggung informasi sekaligus alat propaganda masa kini.   Pada kondisi sekarang, masyarakat perkotaan seperti Jakarta tengah berada pada suatu era yang disebut dengan (saya ambil dari buku Pak Idi) istilah 'Keberlimpahan Komunikasi'. Semua informasi masuk dan keluar melampaui ambang batas. Dalam bukunya, yang berjudul Kritik Budaya Komunikasi, Pak Idi menjelaskan bahwa, era keberlimpahan komunikasi adalah suatu masa dimana muatan-muatan informasi mengalami TITIK JE...