Postingan

Madinah

Gambar
In Front Of Masjid Nabawi. After Zuhur Amazed with this beautiful umbrella Parents: The doors of Jannah. Scenery after Fajr in front of Masjid Nabawi Masjid Quba. Muhammad SAW's Masjid Quba Captured from the bus Dates Park Jabal Uhud. the mountain is look like a big face man was sleep there Nabawi Museum. guess what it is? yes, House of Rasulullah SAW is. Love with the desain. Madinah's airport Thankyou Allah for this beautiful city. Madinah. i've already missing this place. so muchhhhh.

Perempuan Yang Tak Kuasa Menatap Cinta Pertamanya

Ada perempuan yg tak kuasa menatap cinta pertamanya. Datang untuk melepas. Menuntun untuk merelakan. Aku tak pernah melihat keikhlasan yg luar biasa dari perempuan biasa yg menerima lelaki itu dengan hati terbuka. Lalu harus meninggalkan, karena ada lelaki lain yang bersedia menjadi penanggungnya. Hari hari yg berjuntai dari rangkakan kecil tergadai lewat suara keabsahan sepasang cinta yang belum dipertemukan. Kini dia terbungkuk menahan sengguk dan nafas yg tiba tiba naik ke tenggorokan. Bertahan agar ketegarannya tak pecah. Tapi lelaki itu menguatkan. Menahan rona wajahnya agar tak semakin merah. Mungkin memang harus seperti itu. Perihal prinsip bahwa lelaki tak boleh menangis, tak boleh kalah dengan sekedar bahagia nya yang teramat buncah. Selamat menempuh hidup baru, sahabatku. Jangan khawatir, akan ada banyak cinta disekeliling menjaga Bapak yg kau tinggalkan, untuk melayani suamimu dlm ketaatan. Jakarta 19 April 2015.

Kelak.

Aku akan berdansa denganmu. Tanpa musik, tanpa lagu, tapi kaki kita selalu tau kemana harus melaju. Kelak. Selalu akan ada teh hangat yang menunggu pulangmu. Sore yang tak terlalu sore, dan gincuku yang membekas di punggung kanan tanganmu. Kelak. Terkadang kaca-kaca rumah kita kan bergetar, menahan geram dari geraham yang bergelutuk, mengutuk sebuah kesalahpahaman, tapi mengalahlah. Untuk memenangi damaiku lewat sebuah pelukan. Kelak. Baju-bajumu akan kulipat dengan lipatan yang tak sempurna (maaf aku tak pandai menyetrika) , tapi biarkan taat dan kesabaranku menggugahmu memaafkannya. Kelak. Aku akan menjahit ujung-ujung celanamu barang sedikit, lima sampai tujuh senti di atas mata kaki. Supaya kamu tak celaka, karena aku tahu tapi tak menyampaikan. Atau karena kamu tahu, tapi tak mengamalkan. Kelak. Aku akan -selalu- mencarimu. Seseorang yang tak merasa dirinya bersih, tapi termotivasi untuk membersihkan diri. Bersama. Berdua. Dan kelak. Jika memang kamu, maka Tuhan...

Sajak buat Chairil

: Terimakasih telah meciptakan 'Karawang-Bekasi' Sebait sebait aku mengeja sendu ini. Ketika itu kamu bicara padaku dalam hening di malam sepi Ya, dadaku kerap terasa hampa Dan beginiah aku yang menemuimu: apa adanya. Sebuah payah, sebuah gundah. Benar saja katamu, "Kami mati muda" Jiwa yang melayang tapi tidak untuk apa-apa Tak ada yang meneruskan. Tak ada yang menjaga. Aku pernah meneriakimu malam itu. Kepada langit, kepada dingin, kepada takut, kepada nasib yang -sebenarnya- tengah mengaduh-aduh. Dan benar lagi katamu, "Kami sekarang mayat" Tak ada yang mengenang Tak ada yang memberi arti. Entah sebab apa akupun merasakan pedih dalam puisimu itu. Bekasi, 2014

Tempat Tertinggi

Yang kita butuhkan hanyalah ruang untuk terpejam. Sebuah kamar, yang menghadap awan. Kita berdiri di sana. Berlatih untuk sebuah kompetisi basa basi. Ditemani jemuran, sebuah colokan, sedikit camilan, dan sekelumit candaan (yang tak ada habisnya). Menertawai apa saja yang terlintas. Mengganggu konsentrasi yang tidak tuntas. Karena -mungkin- kita sudah terlalu bosan mengeluh, Terlalu rela membiarkan sesal berlari jauh. Terlalu kenyang dengan rasa syukur yang jadi penawar paling ampuh. Lalu cahaya matahari pagi itu mampir Membuat bayanganmu serupa bagian dari karya yang tak kita duga. Bahwa hangat di tempat sesederhana ini yang membuat kita tidur nyenyak. Jauh, dari tempat kita biasa melambungkan mimpi di udara yang kita hirup sehari hari. Kita sepakat akan merindukan tempat ini. #RoofTop sebuah hotel. Semarang, 2014

Perempuan Langit

: untuk sahabat kecil Aku menunggumu pagi itu dalam rebah Pada dasar yang tak menjauhkan kita dari rasa tabah. Aku, kamu, meja, dan kursi yang menemani tanpa menghakimi Di antara kaki-kaki kayu yang menyelipkan haru Kita tak percaya telah melesati puluhan tahun cahaya, bersama. Dan sayapmu telah lebih dahulu sampai Pada satu hari saat semua kegelisahan tergadai. Sedang aku masih saja terjejak merana tak berdaya Melafazkan lusinan doa agar bisa menyusulmu ke sana Berharap udara membawa getaran kata-kata yang kita ucap Ke tempat yang lebih tinggi dari langit-langit putih yang kita tatap Bahu dan telinga kita telah sejajar. Memasrahkan lantai yang dingin mencerap sepasang airmata yang tak terdengar. Lalu kita sepakat bahwa hidup ini nyatanya tak jauh beda dengan aurora: Berputar indah tapi terpecah. Menyimpan warna yang tak pernah kita duga, pun lengkap dengan pilu yang luar biasa.. Tangerang, 2014.

Di Antara Gerbang dan Kerikil Tajam

Kepada Para Penjaga Palang Kereta: Sebab apa engkau bertahan pada bising yang memekakkan genderang telinga? Saat usia-usia dipasrahkan jatuh pada besi tua yang semakin tak terlihat ujung takdirnya. Sedang peluh dan keluh engkau, Hanya boleh didengar oleh polusi dan egoisme pengendara. Terimakasih karena telah menjaga pejammu dari malam yang begitu menggoda. Dari angin yang tak permisi merasuk, mematikan pembuluh nadi dan aorta. Terimakasih karena telah bersedia menjadi penolong ribuan -atau bahkan jutaan- nyawa. Karena kuat engkau, jembatan bagi mereka dan keluarga untuk kembali bertatap mata. Karena mungkin engkaupun sudah mulai lupa sesiapa saja anak-cucumu yang menunggu engkau di rumah. (Stasiun Pasar Senen. 21:30)