Postingan

Tentang Kebijaksanaan

Sejak hari itu aku jadi tebiasa menertawai diri sendiri. Hari yang tak bisa kupastikan sedang kapan terjadi. Karena menurut profesor filsafat yang mengajar di kelas, 'sekarang' bukanlah waktu yang absolut. Pun kita yang ada saat ini adalah sekumpulan sekarang-sekarang di masa itu.  Tersasar pada gang yang bentuknya seperti fatamorgana: Tak berujung. Terbentur pada dinding-dinding kamar mandi yang terlalu kecil. Tidak, aku bukan sedang ingin mengeluh dan mengumpat. Sekarang yang ini bukanlah waktu yang baik untuk menyerah. Ah, aku bahkan lupa. Seharusnya mulutku menahan gerak ketika ingin mengucap 'waktu', karena beliau juga selalu menyangsikan makna soal waktu.. Bapakku bilang sebelum pergi, "Jadilah bijaksana.." Terdengar sederhana, tapi nyatanya banyak falsafahnya. Itu juga yang Bapak Tua Pintar nan Jenaka itu tanyakan di kelas Filsafat. "Bagaimana untuk menjadi bijaksana..?" Manusia yang nyata adalah mereka yang selalu merefleksikan kehi...

Tentang Umrah.

Pertama kalinya naik pesawat. Bersyukur pilotnya muslim yang taat. Kami berdoa menempuh safar bersama agar selamat. Pertama kalinya ke luar negeri: Saudi. Sembilan jam berada belasan ribu kaki di atas bumi. Pertama kalinya terpesona pada pandangan pertama dengan dua bangunan termegah di dunia: Nabawi dan Ka’bah. Maha Suci Allah dengan segala KeindahanNya. Pertama kalinya sholat dengan shof yang rapat dan rapi. Betapa tenggang rasa begitu tegak di atas rentetan sajadah kami. Pertama kalinya merasakan langsung bahwa Islam adalah agama yang teramat besar di dunia ini. Dipertemukan dengan para muslimah dari seluruh penjuru negeri: Malaysia, Mongolia, India, Inggris, Cina, Tunisia, Nigeria, Pakistan, Turki, Perancis, negara-negara Jazirah Arab, dan negara lain yang ketika kudengar, tak kupahami bahasanya, tapi kita mengaminkan satu doa di waktu yang sama. Allah Maha Besar dengan Segala KeperkasaanNya. Pertama kalinya merasakan sholat Jumat, di dua tempat tersuci. Pertama kalinya meruntuh...

Tentang Spiritual

Suatu hari aku pernah menangis terseguk-seguk. Di dalam kamar, mempertanyakan bukti kesabaran. Mencari batasnya yang amat kabur, memendam amarah yang sudah sangat kuat membuncah. Suatu hari aku pernah bersaksi kepada tembok-tembok yang diam, menggerutui keadaan. Mengungkapkan rasa sakit yang teramat pahit. Menuliskan apa saja, mengubur pedih lewat kata di atasnya. “Aku tak pernah kecewa dengan segala keputusan Tuhanku..” Aku tak pernah berburuk sangka dengan apa yang sudah Dia gariskan untuk aku lewati hari ini. Sekalipun harus hancur hatiku berkali-kali..   - Suatu malam aku pernah merasa sangat sangat rindu. Aku merasa ditarik. Seperti sebuah pertemuan yang sudah lama dijanjikan, aku datang dengan segala kealpaan. Canggung. Seperti dua orang yang sepakat jatuh cinta tanpa pernah bertemu sebelumnya. Lalu Dia seolah menurunkan tas punggungku yang berisi derita dan rasa payah, mendengarkan setiap bisik dan keluh kesah. Resmi, airmataku pecah.. ...

Madinah

Gambar
In Front Of Masjid Nabawi. After Zuhur Amazed with this beautiful umbrella Parents: The doors of Jannah. Scenery after Fajr in front of Masjid Nabawi Masjid Quba. Muhammad SAW's Masjid Quba Captured from the bus Dates Park Jabal Uhud. the mountain is look like a big face man was sleep there Nabawi Museum. guess what it is? yes, House of Rasulullah SAW is. Love with the desain. Madinah's airport Thankyou Allah for this beautiful city. Madinah. i've already missing this place. so muchhhhh.

Perempuan Yang Tak Kuasa Menatap Cinta Pertamanya

Ada perempuan yg tak kuasa menatap cinta pertamanya. Datang untuk melepas. Menuntun untuk merelakan. Aku tak pernah melihat keikhlasan yg luar biasa dari perempuan biasa yg menerima lelaki itu dengan hati terbuka. Lalu harus meninggalkan, karena ada lelaki lain yang bersedia menjadi penanggungnya. Hari hari yg berjuntai dari rangkakan kecil tergadai lewat suara keabsahan sepasang cinta yang belum dipertemukan. Kini dia terbungkuk menahan sengguk dan nafas yg tiba tiba naik ke tenggorokan. Bertahan agar ketegarannya tak pecah. Tapi lelaki itu menguatkan. Menahan rona wajahnya agar tak semakin merah. Mungkin memang harus seperti itu. Perihal prinsip bahwa lelaki tak boleh menangis, tak boleh kalah dengan sekedar bahagia nya yang teramat buncah. Selamat menempuh hidup baru, sahabatku. Jangan khawatir, akan ada banyak cinta disekeliling menjaga Bapak yg kau tinggalkan, untuk melayani suamimu dlm ketaatan. Jakarta 19 April 2015.

Kelak.

Aku akan berdansa denganmu. Tanpa musik, tanpa lagu, tapi kaki kita selalu tau kemana harus melaju. Kelak. Selalu akan ada teh hangat yang menunggu pulangmu. Sore yang tak terlalu sore, dan gincuku yang membekas di punggung kanan tanganmu. Kelak. Terkadang kaca-kaca rumah kita kan bergetar, menahan geram dari geraham yang bergelutuk, mengutuk sebuah kesalahpahaman, tapi mengalahlah. Untuk memenangi damaiku lewat sebuah pelukan. Kelak. Baju-bajumu akan kulipat dengan lipatan yang tak sempurna (maaf aku tak pandai menyetrika) , tapi biarkan taat dan kesabaranku menggugahmu memaafkannya. Kelak. Aku akan menjahit ujung-ujung celanamu barang sedikit, lima sampai tujuh senti di atas mata kaki. Supaya kamu tak celaka, karena aku tahu tapi tak menyampaikan. Atau karena kamu tahu, tapi tak mengamalkan. Kelak. Aku akan -selalu- mencarimu. Seseorang yang tak merasa dirinya bersih, tapi termotivasi untuk membersihkan diri. Bersama. Berdua. Dan kelak. Jika memang kamu, maka Tuhan...

Sajak buat Chairil

: Terimakasih telah meciptakan 'Karawang-Bekasi' Sebait sebait aku mengeja sendu ini. Ketika itu kamu bicara padaku dalam hening di malam sepi Ya, dadaku kerap terasa hampa Dan beginiah aku yang menemuimu: apa adanya. Sebuah payah, sebuah gundah. Benar saja katamu, "Kami mati muda" Jiwa yang melayang tapi tidak untuk apa-apa Tak ada yang meneruskan. Tak ada yang menjaga. Aku pernah meneriakimu malam itu. Kepada langit, kepada dingin, kepada takut, kepada nasib yang -sebenarnya- tengah mengaduh-aduh. Dan benar lagi katamu, "Kami sekarang mayat" Tak ada yang mengenang Tak ada yang memberi arti. Entah sebab apa akupun merasakan pedih dalam puisimu itu. Bekasi, 2014