Postingan

Kelangan.

Untuk Pak Win. Seorang suami yang ditinggal mati sang istri.. Aku ingin pulang ke dalam matamu yang sendu, tapi tak ada jalan.. Dingin di sini. Hujan terus mengguyur dan menjadi penjahat paling sakti yang membawa ketabahanmu mampir dalam ilusiku setiap hari. Sekejap hujan juga menjadi pendengar paling setia yang tak menyanggahku lewat kata, tapi menggemuruh seperti tanda.. Terkadang aku lupa cinta itu bagaimana.. Mungkin seperti keyakinan anak kita yang masih bertanya kenapa kamu tak sembuh juga, tapi malah tiada.. Mungkin juga seperti senyum yang kamu sunggingkan meski ternyata ada sakit yang tak tertahan.. Atau mungkin juga seperti keheningan, yang menemanimu pergi, jauh mendahului.. Yogya 2016. -- Pak Win adalah Bapak yang akan menyewakan rumahnya untuk kutempati kelak. Istrinya meninggal dunia karena kanker serviks 8 tahun lalu, saat anak pertama mereka masih duduk di kelas 3 SD, dan anak kedua mereka menginjak TK. Beliau menceritakan detil demi det...

Elegi Tahun Baru #2

: Kepada ibu yang selalu ku rindu "Berada di pelukanmu,  mengajarkanku apa artinya kenyamanan,  kesempurnaan cinta.." Lagu itu mengalun bertenaga di radioku. Dadaku terasa berdegup lebih dalam. Tetiba raut wajahmu sering hadir di malam-malam ku yang sendirian. Belakangan ini aku menjadi semakin sensitif. Kata kakakku memang sewajarnya begitu.. Sesekali dia berbicara padaku dengan merengek, memintaku untuk tidak pergi jauh. Seperti anak kecil yang meminta selimutnya tidak dicuci, karena ada bau yang akan selalu ia tunggu agar bisa tidur nyenyak tanpa sesak. Terkadang seusai menutup telepon aku menangis. Sejadi-jadinya.  Sebisa mungkin aku ingin selalu di sampingmu..  Mendengarkan setiap cerita, keluhan dan ringkasan perjalanan kecil yang setiap hari engkau lakukan, seperti biasa.. Atau mengantar kemana pun engkau mau, selelah apapun, seperti biasa.. atau membuat lelucon-lelucon hanya sekedar membuat engkau tertawa, seperti biasa.. Aku sangat ingin. ...

Di Atas 24 Karat.

Seperti burung yang bertolak dari sarangnya. Ringan. Tanpa mengunci pintu dan pagar. Seperti itu aku ingin beranjak dari pangkuanmu.. Berdamailah dari ketakutan, Karena aku tak pernah ragu dengan kebesaran Tuhanku, Maka janganlah juga kamu begitu, Tapi doakanlah kami untuk tidak bergegas dengan rasa khawatir. Agar ibadah besar ini tak kami jalani dengan upaya yang cuma segelintir. Kendati aku pun pergi tak membawa kunci, Maka tak ada pusaka yang berguna bila kita tidak bahagia.. Kita hanya perlu pulang dan melepaskan masa yang telah jadi kenang, Dalam dekap. Kelak rindu pasti penuh seperti pertama kali kita bertemu, 25 tahun yang lalu. Sedang ada sebongkah doa tak kan pernah terputus, berharap kita bisa bertatap lagi, lebih lama dari sebelumnya.. Maka, tenanglah, namamu akan tetap hidup di dalam sini, Meski aku akan diambil orang, empat bulan lagi..

Teman Dari Nol

Tidak adil rasanya, ketika aku telah berdamai dan merasa lebih baik dari aku yang dulu, lantas aku berhak mencari yang sepadan denganku. Sedang dia telah hadir di sini, jauh sebelum aku menjadi seperti sekarang ini. Menuntun dan menjadi pijakan, bahwa aku punya kesempatan melihat ke tempat yang lebih tinggi lagi. Tidak adil rasanya, ketika dia mulai berproses menjadi sesuatu yang lebih baik darinya yang dulu, kemudian aku meninggalkannya tanpa menjadi penggenggam dan pijakan untuknya. Tanpa melihat apa yang akan dihasilkannya kelak. Karena aku tak ingin mengingkari apa yang sudah kujanjikan pada hati. Kita akan selalu berubah. Tapi biarlah waktu tetap menjadi pedang sebagaimana ia diciptakan. Biar saja apa yang tertinggal menjadi pelajaran sebagaimana kita merumuskan hari depan. Biar saja sekelumit cela yang kita bawa tetap menjadi rahasia yang tak boleh diselami siapapun juga. Bahwa bosan memang perlu ada, untuk kita saling menyempurnakan, bukan saling meninggalkan. ...

Tentang Kebijaksanaan

Sejak hari itu aku jadi tebiasa menertawai diri sendiri. Hari yang tak bisa kupastikan sedang kapan terjadi. Karena menurut profesor filsafat yang mengajar di kelas, 'sekarang' bukanlah waktu yang absolut. Pun kita yang ada saat ini adalah sekumpulan sekarang-sekarang di masa itu.  Tersasar pada gang yang bentuknya seperti fatamorgana: Tak berujung. Terbentur pada dinding-dinding kamar mandi yang terlalu kecil. Tidak, aku bukan sedang ingin mengeluh dan mengumpat. Sekarang yang ini bukanlah waktu yang baik untuk menyerah. Ah, aku bahkan lupa. Seharusnya mulutku menahan gerak ketika ingin mengucap 'waktu', karena beliau juga selalu menyangsikan makna soal waktu.. Bapakku bilang sebelum pergi, "Jadilah bijaksana.." Terdengar sederhana, tapi nyatanya banyak falsafahnya. Itu juga yang Bapak Tua Pintar nan Jenaka itu tanyakan di kelas Filsafat. "Bagaimana untuk menjadi bijaksana..?" Manusia yang nyata adalah mereka yang selalu merefleksikan kehi...

Tentang Umrah.

Pertama kalinya naik pesawat. Bersyukur pilotnya muslim yang taat. Kami berdoa menempuh safar bersama agar selamat. Pertama kalinya ke luar negeri: Saudi. Sembilan jam berada belasan ribu kaki di atas bumi. Pertama kalinya terpesona pada pandangan pertama dengan dua bangunan termegah di dunia: Nabawi dan Ka’bah. Maha Suci Allah dengan segala KeindahanNya. Pertama kalinya sholat dengan shof yang rapat dan rapi. Betapa tenggang rasa begitu tegak di atas rentetan sajadah kami. Pertama kalinya merasakan langsung bahwa Islam adalah agama yang teramat besar di dunia ini. Dipertemukan dengan para muslimah dari seluruh penjuru negeri: Malaysia, Mongolia, India, Inggris, Cina, Tunisia, Nigeria, Pakistan, Turki, Perancis, negara-negara Jazirah Arab, dan negara lain yang ketika kudengar, tak kupahami bahasanya, tapi kita mengaminkan satu doa di waktu yang sama. Allah Maha Besar dengan Segala KeperkasaanNya. Pertama kalinya merasakan sholat Jumat, di dua tempat tersuci. Pertama kalinya meruntuh...

Tentang Spiritual

Suatu hari aku pernah menangis terseguk-seguk. Di dalam kamar, mempertanyakan bukti kesabaran. Mencari batasnya yang amat kabur, memendam amarah yang sudah sangat kuat membuncah. Suatu hari aku pernah bersaksi kepada tembok-tembok yang diam, menggerutui keadaan. Mengungkapkan rasa sakit yang teramat pahit. Menuliskan apa saja, mengubur pedih lewat kata di atasnya. “Aku tak pernah kecewa dengan segala keputusan Tuhanku..” Aku tak pernah berburuk sangka dengan apa yang sudah Dia gariskan untuk aku lewati hari ini. Sekalipun harus hancur hatiku berkali-kali..   - Suatu malam aku pernah merasa sangat sangat rindu. Aku merasa ditarik. Seperti sebuah pertemuan yang sudah lama dijanjikan, aku datang dengan segala kealpaan. Canggung. Seperti dua orang yang sepakat jatuh cinta tanpa pernah bertemu sebelumnya. Lalu Dia seolah menurunkan tas punggungku yang berisi derita dan rasa payah, mendengarkan setiap bisik dan keluh kesah. Resmi, airmataku pecah.. ...