Postingan

Tentang Kegelisahan

Tentu ini bukan mimpi yang biasa saja. Atau mungkin bisa biasa saja, tapi ini satu satunya mimpi –seingatku- yang mencampuradukkan pikiran gelisah dan rasa senang yang tak pernah kurasakan sebelumnya... Siang itu aku ada di suatu kota, yang kutau itu adalah pelataran menara tertinggi di kota Mekkah. Aku berjalan jalan di kota. Menemukan temanku sedang bercanda, dan orang-orang lain yang tak ku kenal. Tapi aku dalam keadaan yang amat sangat buruk dan kotor. Dadaku luka, perih, ketika aku berkaca ada sejumlah baret yang sangat tak enak dipandang mata. Aku memakai baju dengan potongan dada yang rendah. Tanpa jilbab sebagaimana hari-hari biasa. Aku berkaca, ada luka merah dan hitam yang mengering membuatku jijik dengan diriku sendiri. Malu, aku pergi meninggalkan tempat itu ke taman kota. Tiba-tiba aku mendengar suara tembakan dari arah kanan, seseorang membawa senapan laras panjang dengan pakaian tuxedo. Aku terbengong dengan rasa takut. Orang-orang berlarian kocar kacir. Ada t...

Semua Berubah Setelah Menikah

Awalnya, Aku berpikir bahwa aku akan menunda punya anak, menyelesaikan kuliah, bekerja sampai puas, lalu mengurus rumah. Kemudian, Aku pernah berencana, aku akan menyisihkan sedikit uang untuk jalan-jalan berdua, berbelanja online sesuka hati. Pun aku bertekad untuk mengurus rumah tangga sendiri, aku akan jadi sekuat ibu. Iya, begitu. Tapi, Semua berubah setelah menikah.. Bahwa mengandung, berarti aku memberikan sedikit kesempatan keturunanku berjumpa dengan siapa cikal bakalnya. Bahwa sedikitnya aku mengganti kesedihan mertuaku yang 'kehilangan' anak lelakinya, dengan manusia kecil baru yang akan membesarkan lagi cinta mereka. Ya, semua berubah setelah menikah. Bahwa berjalan-jalan bersama keluarga ditambah sesosok belahan jiwa adalah hal yang lebih membahagiakan ketimbang jalan berdua. Bahwa aku tak juga kehilangan waktu 'berdua' ketika berada di tengah mereka. Bahwa tawaku bisa lebih pecah, sukaku nyatanya lebih membuncah.. Percayalah, se...

Perawan

Untuk Bundo Setelah ini tak akan ada lagi drama. Semua kupastikan sirna. Ingatkan ini nanti, kelak aku akan menagihnya dalam hati. Aku mungkin akan meminta maaf, perihal lupa, perihal salah dimana pijakanku lama terbenam. Sendiri aku besar, setiap hitam pernah kukenakan. Tapi siapa yang ingin mati dengan rasa khilaf yang tak bisa diobati? Aku rasa tak ada. Kecuali pesakitan yang tak lagi punya harapan. Aku ingin mereka tau aku berbeda. Sedikit egois, banyak candanya. Sejuta teman, banyak cacatnya. Tapi pasti ada dia di sana yang akan menjadi lentera. Tentang sebuah penerimaan yang tak bisa biasa saja. Selain Ibu yang memaklumi segala buruk ku, yang menyediakan ruang untukku berketurunan.  Aku percaya Tuhan Maha Memaafkan, soal keyakinanku sebagai perawan, soal banyak bedak dan gincu yang kusimpan. Begitupun soal kamu yang sedari tadi mendengarkan.  Aku tau kamu akan menjaga, karena itu aku percaya. 

Memakna Kontemporer

"..di Indonesia, kita mudah menyerah sebab tak betah bersusah payah untuk memahami sesuatu yang baru.."  - Sal Murgiyanto Kesulitan penerimaan masyarakat terhadap seni kontemporer bersumber pada ketidakinginterbukaan mereka terhadap pintu wawasan yang baru. Perihal kontemporer dianggap lebih mudah diterima oleh mereka yang cukup berpendidikan dan mau 'menelan' apa saja yang disajikan juga berani mengkritik. Masyarakat perkotaan misalnya, Sal mencontohkan. Saya menilik ke dalam diri sendiri, sebagai produser dan pengelola, Sal menasehati, bahwa kita harus pandai melihat pasar, dan memilah penikmat seni yang seperti apa yang akan mampu mencerna makna kontemporer yang dihadirkan dan bagaimana diinterpretasikan tanpa salah sasaran. Lebih jauh lagi, kita harus mahir menempatkan mana seni yang -hanya- ingin dinikmati, dan mana seni yang perlu disajikan ke hadapan masyarakat plural saat ini. Perlu disadari, bahwa target utama dari seni kontemporer itu adalah adanya ...

Kelangan.

Untuk Pak Win. Seorang suami yang ditinggal mati sang istri.. Aku ingin pulang ke dalam matamu yang sendu, tapi tak ada jalan.. Dingin di sini. Hujan terus mengguyur dan menjadi penjahat paling sakti yang membawa ketabahanmu mampir dalam ilusiku setiap hari. Sekejap hujan juga menjadi pendengar paling setia yang tak menyanggahku lewat kata, tapi menggemuruh seperti tanda.. Terkadang aku lupa cinta itu bagaimana.. Mungkin seperti keyakinan anak kita yang masih bertanya kenapa kamu tak sembuh juga, tapi malah tiada.. Mungkin juga seperti senyum yang kamu sunggingkan meski ternyata ada sakit yang tak tertahan.. Atau mungkin juga seperti keheningan, yang menemanimu pergi, jauh mendahului.. Yogya 2016. -- Pak Win adalah Bapak yang akan menyewakan rumahnya untuk kutempati kelak. Istrinya meninggal dunia karena kanker serviks 8 tahun lalu, saat anak pertama mereka masih duduk di kelas 3 SD, dan anak kedua mereka menginjak TK. Beliau menceritakan detil demi det...

Elegi Tahun Baru #2

: Kepada ibu yang selalu ku rindu "Berada di pelukanmu,  mengajarkanku apa artinya kenyamanan,  kesempurnaan cinta.." Lagu itu mengalun bertenaga di radioku. Dadaku terasa berdegup lebih dalam. Tetiba raut wajahmu sering hadir di malam-malam ku yang sendirian. Belakangan ini aku menjadi semakin sensitif. Kata kakakku memang sewajarnya begitu.. Sesekali dia berbicara padaku dengan merengek, memintaku untuk tidak pergi jauh. Seperti anak kecil yang meminta selimutnya tidak dicuci, karena ada bau yang akan selalu ia tunggu agar bisa tidur nyenyak tanpa sesak. Terkadang seusai menutup telepon aku menangis. Sejadi-jadinya.  Sebisa mungkin aku ingin selalu di sampingmu..  Mendengarkan setiap cerita, keluhan dan ringkasan perjalanan kecil yang setiap hari engkau lakukan, seperti biasa.. Atau mengantar kemana pun engkau mau, selelah apapun, seperti biasa.. atau membuat lelucon-lelucon hanya sekedar membuat engkau tertawa, seperti biasa.. Aku sangat ingin. ...

Di Atas 24 Karat.

Seperti burung yang bertolak dari sarangnya. Ringan. Tanpa mengunci pintu dan pagar. Seperti itu aku ingin beranjak dari pangkuanmu.. Berdamailah dari ketakutan, Karena aku tak pernah ragu dengan kebesaran Tuhanku, Maka janganlah juga kamu begitu, Tapi doakanlah kami untuk tidak bergegas dengan rasa khawatir. Agar ibadah besar ini tak kami jalani dengan upaya yang cuma segelintir. Kendati aku pun pergi tak membawa kunci, Maka tak ada pusaka yang berguna bila kita tidak bahagia.. Kita hanya perlu pulang dan melepaskan masa yang telah jadi kenang, Dalam dekap. Kelak rindu pasti penuh seperti pertama kali kita bertemu, 25 tahun yang lalu. Sedang ada sebongkah doa tak kan pernah terputus, berharap kita bisa bertatap lagi, lebih lama dari sebelumnya.. Maka, tenanglah, namamu akan tetap hidup di dalam sini, Meski aku akan diambil orang, empat bulan lagi..