Postingan

Lelaki di Lorong Sunyi

Kepada ‘Bapak’ Mataku basah. Seperti gerimis yang mengumpul pada jeruji jendela tua rumah kita. Aku menunggumu terbangun. Di kursi. Setiap pagi. . Tapi kau tak ada. . Aku kira kau ke pasar. Membeli beras atau sabun cuci. Dari ujung lorong kucermati. Kau tak juga kembali. Sampai sore. . Tapi biar kutunggu sebentar lagi. . Aku hanya ingin berterimakasih padamu, karena telah sabar bersamaku. Menua. Lalu menimang cucu. Aku memang dingin dan payah. Tapi darimu aku belajar, untuk tidak menyerah walau bersusah-susah. . Berhari-hari aku tak mendengar lagi denyit keramik dari langkah kakimu yang kecil. Kursi di sebelahku tak lagi ditempati. Melapuk kulitnya. Aus karena jutaan hari ada kenanganmu di sini. . Pendengaranku melemah. Mungkin karena itu candamu tak lagi bisa kudengar. Kadang aku tak tertawa. Hampa.  . Aku sendirian di ruang makan. Mencari waktu agar kita bisa kembali bertemu. Mungkin tak hari ini. Tapi esok pagi aku kan menunggu lagi, di sin...

Perempuan Pukul Tiga

Aku menghapal ratusan mendung yang pernah singgah. Pergi dengan warisan duka. Luka. Luka. Kutambal, yang lain menganga. Lupa. Pada siapa? Aku ingin memaafkan setiap air mata yang jatuh. Tapi rasanya sulit. Aku berpenyakit. Tak lagi bala dan sesal bisa kutampik. Kata. Sabda. Hanya mengalir di telinga. Satu per satu akan pergi pada masanya. Sunyi. Sendiri. Tapi perpisahan tak selamanya menyakiti. - Bekasi 2018

Senja Tanpa Cahaya

Aku ingin bertemu denganmu lagi. Di ruang yang satu per satu sengaja kita kosongi. Di matamu yang dulu. Di pelukmu yang dulu. . Detik-detik penghujung usia kuhabiskan untuk mengalah, meski egomu selalu membuncah. Kelak, mataku tak lagi bisa melihatmu. Tapi mencintaimu adalah kata yang kupatri jauh sebelum aku dibenci. . Berwaktu-waktu hatiku juga sudah banyak patah. Kurekatkan selalu, sebisanya. Di sampingmu adalah keputusan, bukan pilihan. Maka tersenyumlah lagi diantara tatap kita yang kini kerap bersitegang. . Aku hanya ingin dibuatkan segelas kopi. Dari tanganmu. Ditambah sedikit canda dan dendangmu di dapur. Mengingat-ingat masa muda kita yang –mungkin saja- jadi pelipur. . Aku tak ingin membiarkanmu sendirian, tapi merengkuh bahumu saja aku tak punya keberanian. Tua mugkin telah membuat kita lupa, bahwa darah dan daging tak punya wujud yang sempurna. Dan jauh di dalam sana, tak ku duga hatimu telah sekarat penuh luka. . Maka maafkanlah aku yang hina. . L...

Di Wedi Ombo

Gambar
Untuk Biya, anakku, Untuk Tiket.com, sarana menjelajah yang memudahkan setiap orang ( Tiket.com), Dan untuk kalian yang memaknai kehidupan lewat perjalanan. - Satu-satunya kemewahan yang bisa kuwariskan kepadamu, anakku, adalah bersyukur atas segala karya luar biasa Tuhan yang menenangkan hati kita. Hidup mungkin tak melulu tentang mengejar kesuksesan materi, tapi maknailah segala kegagalan sebagai perjalanan yang kan membawamu pada rasa baru bernama bahagia: sederhana. Aku selalu ingin memberitahumu tentang kota ini, Biya. Jogja. Kaki-kaki kecilmu kutuntun mengenal semua. Tentang segala harta yang masih diendapnya. Ombak. Pasir. Deru angin. Laguna. Batu-batu. Satu-satu kamu kan tahu. Nikmati saja sebagai pengganti senyum kakek nenek yang tak bisa kita temui setiap hari. Belajarlah dari sini. Dari alam yang memberikan banyak arti. Berlakulah dengan pekerti. Di situ kamu kan temukan surga yang tersembunyi. Seperti tempat ini, kukenalkan kamu dengannya, Wedi...

Sebuah Doa

Gambar
Kepadamu: Anak Perempuan Kami Yang Penyabar Aku terus menerka-nerka seperti apa kelak kau punya rupa Seperti sebuah riak, kau hanya berbahasa lewat gerak. Kutunggu itu. Setiap hari, Setiap pejam dan kejap yang berusaha pergi Yang membuat malam-malamku tak lagi sepi.

Tiga Huruf Bermakna Seribu: #IBU

Sebesar dan setua apapun anak, tetap aja akan menjadi seorang 'anak' di mata ibunya: yang terkesan masih butuh dibuatkan susu pagi, beberapa helai pakaian dicuci, beberapa cemilan dibeli, beberapa pekerjaan rumah dikerjakan, beberapa kebutuhan dicukupkan. Padahal semua itu telah sanggup sendiri kulakukan. - Bertahun-tahun kuhapal dan kujadikan pelajaran segala bentuk kekurangannya sebagai manusia biasa, tapi nyatanya aku tak pernah berhasil menyelami sebegitu dalam relung cintanya, yang -mungkin- pernah kurusak dengan rasa kecewa di hatinya, atau tak sadar kusakiti dengan lidah yang membelati membasahi dua pipinya. - Lalu, setelah 9 hari di perantauan menemani, ia pulang dengan maksud kembali lagi. Menyisipkan sedikit hartanya di bilah tanganku setelah memeluknya yang akan pamit pergi. Ibuku, bukan tipe orang yang senang mengumbar rasa sayang, tapi seberat apapun ia akan selalu berusaha membahagiakan.  - Sembilan bulan aku memapah jiwa baru di dalam badan, baru kin...

Tentang Kegelisahan

Tentu ini bukan mimpi yang biasa saja. Atau mungkin bisa biasa saja, tapi ini satu satunya mimpi –seingatku- yang mencampuradukkan pikiran gelisah dan rasa senang yang tak pernah kurasakan sebelumnya... Siang itu aku ada di suatu kota, yang kutau itu adalah pelataran menara tertinggi di kota Mekkah. Aku berjalan jalan di kota. Menemukan temanku sedang bercanda, dan orang-orang lain yang tak ku kenal. Tapi aku dalam keadaan yang amat sangat buruk dan kotor. Dadaku luka, perih, ketika aku berkaca ada sejumlah baret yang sangat tak enak dipandang mata. Aku memakai baju dengan potongan dada yang rendah. Tanpa jilbab sebagaimana hari-hari biasa. Aku berkaca, ada luka merah dan hitam yang mengering membuatku jijik dengan diriku sendiri. Malu, aku pergi meninggalkan tempat itu ke taman kota. Tiba-tiba aku mendengar suara tembakan dari arah kanan, seseorang membawa senapan laras panjang dengan pakaian tuxedo. Aku terbengong dengan rasa takut. Orang-orang berlarian kocar kacir. Ada t...