Media dan Paradoks Pemilu

Tulisan serius sekali-sekali.
Untuk Para Politisi Karbitan.
 
Indonesia sedang menunggu waktu untuk melanjutkan sejarah pemerintahannya: sebuah peristiwa pergantian pemimpin negara. Dua nama telah dicalonkan, dua nama telah dikantongi untuk dipilih satu bulan lagi. Kampanye-kampanye pun dimulai dan menyebar secara drastis dan dramatis lewat media-media komunikasi yang ada. Koran, Majalah, Televisi, Radio, dan Internet. Iyaa INTERNET. Sejak Indonesia melek Internet, semuanya diakses dengan internet: tulang punggung informasi sekaligus alat propaganda masa kini.
 
Pada kondisi sekarang, masyarakat perkotaan seperti Jakarta tengah berada pada suatu era yang disebut dengan (saya ambil dari buku Pak Idi) istilah 'Keberlimpahan Komunikasi'. Semua informasi masuk dan keluar melampaui ambang batas. Dalam bukunya, yang berjudul Kritik Budaya Komunikasi, Pak Idi menjelaskan bahwa, era keberlimpahan komunikasi adalah suatu masa dimana muatan-muatan informasi mengalami TITIK JENUH. Yes, titik jenuh. Kampanye dimana mana. Sindir menyindir, saling fitnah, saling menjatuhkan, guling-guling kasur pokonya. Penuh. Jenuh. Kejenuhan ini terjadi di benak tiap masyarakat selaku pengguna media komunikasi.
 
Unfortunately, hal tersebut gak bisa kita hindari. Karena di era digital seperti sekarang ini, media seolah menjadi nafas bagi manusia-manusia kontemporer berintelektual. Mau tidur cek media sosial, bangun tidur cek media sosial, tengah hari upload berita, sore hari komentar dan adu argumen tentang kampanye presiden idola. helllooww pada ga capek apa??
 
Back again to urusan kampanye, keberlimpahan komunikasi itu juga terjadi karena adanya 'ledakan informasi' yang terus menerus dibawa media ke dalam ruang-ruang kehidupan masyarakat mutakhir. Masyarakat seolah diserbu oleh berbagai macam informasi berupa gambar, teks, bunyi, tanda, simbol, dan pesan-pesan visual lainnya. Masyarakat juga dibanjiri oleh informasi yang bersifat ideologis dan politis.
 
Sungguh, ga ada salahnya memang menilik lebih jauh tentang sosok pemimpin yang kita percaya akan memegang Indonesia. Justru itu hal yang baik karena kita 'dipaksa' tau dan kenal lebih dekat dengan orang yang akan mengemban amanah besar ini. Tapi, the big bang nya adalah, kenapa kita harus memaksa orang lain untuk mengakui sebuah eksistensi diri bahwa kita juga 'melek politik'..?? Bahwa dengan menyebar sebuah berita yang sifatnya mengkampanyekan seorang capres membuat kita jadi seorang yang dinilai punya empati tinggi terhadap dunia politik.
 
Hellooooww.. kemana aja kemaren sebelum PilPres??
 
Atas dasar media yang dikuasai, membuat seseorang merasa seolah ia memiliki begitu banyak informasi mengenai dunia dan sesuatu yang ia yakini itu. Padahal tanpa disadari, pengetahuannya itu nyatanya hanya sebatas permukaan dan terpenggal-penggal (hal 13). Media menumpahruahkan informasi dan membentuk bangsa menjadi generasi instan. Generasi karbitan.
 
"Kini begitu banyak citra yang kita lihat dan dengar lewat media massa, tetapi rasanya terlalu sedikit ruang dan waktu untuk merenungkan apa arti semua bagi kehidupan.." -Idi Subandy
 
Sadarilah bahwa media itu sendiri -dalam dunia politik- memainkan peran yang tak pasti. Media menjadi seperti mitos, sesuatu yang boleh dipercaya, boleh juga tidak. Jangan terlalu cepat tenggelam dalam suguhan-suguhan media yang kadang tidak berimbang dalam memberitakan sesuatu.
 
Termasuk soal kampanye,
mungkin sekali dua kali bernilai informasi, ketiga dan keempat akan mejadikan kamu aktor yang membentuk kejenuhan media komunikasi. Cuma ada dua pilihan kita nanti, dipimpin oleh dia yang kita puji, atau dia yang kita caci. Hati-hati, terkadang media membuat kita menjilat ludah sendiri.
 
 
Ratih - Juni 2014
 
 
*debut pertama menulis soal media. semoga bisa dipahami. semoga bermanfaat. :)
 

Komentar